Warga Desa Kureksari Geruduk Kantor Kepala Desa.

Warga Desa Kureksari Nuntut Salah satu Perangkatxa diberhentikan

Metro Soerya.net. Sidoarjo – Ratusan warga Desa Kureksari Kecmatan Waru, Sidoarjo geruduk kantor kepala desa, terkait tidak diberhentikannya (dipecat) salah satu oknum perangkat desanya Samian selaku bendahara desa, yang sudah terbukti melakukan praktik pungli kepada warga desa, Senin (13/8/2018)

Puncak kekesalan warga desa sudah tidak bisa dibendung lagi, ini terbukti dengan banyaknya warga yang datang ke balai desa untuk menyampaikan aspirinya, guna meminta pertanggung jawaban kepala desa guna memberhentikan (pecat) salah satu oknum perangkatnya yang sudah terbukti melakukan tindak praktik pungli (pungutan liar).

Dengan membawa berbagai macam kertas bertuliskan sindiran negatif serta kecaman kepada Sami’an. Aksi unjuk rasa damai ini, sempat memanas ketika kepala desa tidak berada ditempat, karena warga sudah menunggunya sejak pagi. Juga sebelumnya diadakan dua kali pertemuan dengan agenda yang sama namun tidak ada hasilnya (deadlock). Akhirnya warga tenang kembali ketika kepala desa bersedia datang dan menemui warga.

Mustopa (48th) kordinator unjuk rasa sekaligus mantan tim sukses kepala desa saat ini  mengatakan, warga Desa Kureksari menghendaki pemerintahan desa yang bersih dari praktik pungli sesuai dengan visi dan misi. Dan yang dilakukan oleh salah seorang oknum perangkatnya sudah menciderai, mengoyaknya serta membuat warga menjadi resah.

“Pak Kades supaya memecat yang bersangkutan, karena bukan sekali ini saja, namun sebelumnya, pada pemerintahan yang dulu juga dilakukan aksi pungli. Ini sudah menjadi puncak kekesalan warga. Jangan membuat warga jadi resah, gara-gara perangkat ini desa menjadi tidak menjadi kondusif”, kata Mustopa dipertemuan.

Hal serupa juga diungkapkan oleh H. Saipul, yang juga salah seorang tim sukses kepala desa sekarang, mengungkapkan, dirinya merasa malu dengan pemerintahan desa saat ini, karena masih saja ada oknum perangkat desanya yang melakukan aksi pungli. Dan tidak sesuai dengan visi dan misi yang dijanjikan oleh kepala desa.

“Kami bersama warga merasa malu dengan kejadian ini. Apa yang dijanjikan oleh kepala desa dilanggar oleh oknum perangkatnya. Bahwa mengurus surat menyurat secara administratif tidak dikenakan biaya (grati)”, kata Saipul.

Peserta unjuk rasa sempat geram, karena pihak Pemdes tidak mau menghadirkan perangkat desa yang bersangkutan. Akhirnya dengan negoisasi dan jaminan keamanan dari aparat keamanan dan warga, Sami’an bisa dihadirkan untuk dimintai keterangan kronologi yang sesungguhnya.

Dari keterangannya, Sami’an mengatakan, untuk biaya pengurusan tidak ada paksaan (sukarela), dan sesuai dengan yang terdahu, bahkan untuk warga desa sendiri mendapat sejumlah potongan.

“Kami menjalankan sama dengan yang dahulu, hasilnya bukan saya nikmati sendiri, melainkan dibagi dengan perangkat pemerintahan desa. Hal ini sudah diketahui oleh seluruh perangkat desa dan kepala desa”, dalih Sami’an didepan pengunjuk rasa.

Mendapat jawaban Sami’an yang ditengarahi direkayasa dan tidak memuaskan, akhirnya warga mendatangkan langsung korban pungli untuk menjelaskan kronologi sesungguhnya yang dialami.

Dari penjelasan korban, bahwa dirinya mengurus pemecahan dokumen surat leter C ke dokumen surat petok D, dikenakan biaya sebesar Rp 2juta. Namun biaya administrasi sebesar itu tidak disertai dengan alat bukti tertulis.

“Awalnya dikenakan biaya per surat Rp 3 juta, padahal saya ngurus 3 surat berarti saya harus bayar Rp 9 juta. Karena biaya yang mahal akhirnya terjadi tawar menawar dan disepakati biaya Rp 2 juta, untuk 3 surat. Dan saya minta bukti kwitansi sebagai tanda bukti pembayaran tidak dikasih”, kata Dwi didepan pengunjuk rasa.

Selain itu, Dwi juga menjelaskan, dirinya sangat kecewa apa yang digembar gemborkan oleh warga, bahwa mengurus surat tanah di pemerintahan desa gratis, itu omong kosong, terbukti masih dikenakan biaya, pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kureksari Wishom Sahudi, meminta Sami’an untuk mengundurkan diri secara sukarela dan legowo. “Kami harap saudara Sami’an mengundurkan diri saja, secara sukar