Serda (K) Aprilia Manganang, Spiker Andalan Tim Voli Putri Indonesia di Asian Games 2018

(METROSOERYA.NET) – Sosok Aprilia sempat menjadi perbincangan hangat dan viral karena parasnya yang mirip seperti laki-laki?

Bahkan Aprilia sempat dipertanyakan keaslian gendernya oleh pihak Filipina pada SEA Games tiga tahun lalu (2015) yang berlangsung di Singapura. Saat itu Filipina kalah telak melawan atlet bola voli Indonesia dengan skor 3-0.

Memang, kalau anda baru pertama kali melihat sosok Aprilia Manganang, mungkin kesan pertama yang ada di benak anda adalah seorang laki-laki kekar berparas tegas. Jangan salah mengiranya sebagai seorang pria ya, karena dia 100% seorang wanita.

Dengan tinggi badan 170 cm dan berat 68 kilogram, perawakan Aprilia yang kekar membuatnya terlihat seperti seorang laki-laki.

Tomboi

Aprilia Manganang adalah wanita tomboi. Dari pada diragukan apakah dia seorang pria atau wanita karena penampilannya, mungkin Aprilia lebih suka disebut sebagi wanita tomboi, yaitu wanita yang lebih suka berpenampilan macho seperti laki-laki, daripada menunjukkan sisi feminimnya.

Aprilia dilahirkan pada 27 April 1992 di Pulau Siau, tapi besar di Sangihe, Sulawesi Utara. Ia tertarik bermain voli karena melihat teman-temannya.

“Awalnya lihat teman-teman main, jadi ada keinginan main voli,” ujar wanita yang akrab dipanggil April tersebut. Dan berkat ketekunannya belajar bermain voli, kini ia tumbuh menjadi Srikandi Indonesia yang berprestasi di lapangan.

Protes dari Filipina

Kondisi fisiknya yang menyerupai laki-laki dengan paras yang lebih tepat disebut tampan dari pada cantik, kerap kali membuat orang lain mengiranya sebagai seorang laki-laki. Ia pun tak bisa terhindar dari tes-tes medis untuk membuktikan bahwa dirinya adalah wanita tulen.

Sesungguhnya hal seperti itu bukan yang pertama kali dialami oleh April. Tahun 2011 lalu, Tim Popsivo Polwan di Liga Bola Voli Indonesia (Livoli), bahkan tak mau bertanding melawan tim Alko Bandung yang diperkuat oleh Aprilia, karena hasil tes gendernya belum keluar.

Atas banyaknya pertanyaan yang meragukan jenis kelaminnya, seperti juga wanita-wanita lainnya di dunia ini yang secara fisik terlihat seperti laki-laki, April juga merasakan hal yang sama, yakni bosan dan kesal.

Ia sempat putus asa, tapi karena dukungan dari keluarga dan teman-temanya, ia berusaha mempersiapkan mental yang tak kalah kuat dengan pukulan-pukulan kerasnya di lapangan.

“Sudah sering sih diragukan sama orang-orang. Bahkan beberapa kali saya harus menjalani tes feminitas. Seperti tahun 2005 saat sprinter lalu, sebelum masuk voli di voli Bandung juga pernah, dan SEA Games Myanmar, sudah banyak banget jadi sudah biasa,” kata April.

Ia tetap berjiwa besar dan terus membela Indonesia di cabang olah raga (Cabor) bola voli, yang sekarang sedang berlagsung di Indonesia, Asian Games ke-18 tahun 2018.

Jualan Pisang Goreng

Untuk menuju sukses seperti yang diihat banyak orang seperti sekarang ini bagi Aprilia Manganang bukanlah dilaluinya dengan mudah.

Spiker/Smasher andalan Tim Voli Putri Indonesia ini di masa kecilnya jauh dari kehidupan mewah. Dia mengaku hidup sederhana dan pernah membantu orang tuanya berjualan pisang goreng.

“Ketika kecil, saya sudah membantu Mama berjualan pisang goreng di sekitar rumah. Saya harus berjalan cukup jauh. Supaya dagangan cepat habis saya menjual dengan harga semurah mungkin, misalnya 5 pisang goreng harganya 1000 rupiah,” kata Aprilia Manganang, yang akrab dengan panggilan April ini.

Ayah Aprilia Manganang, Akib Zabrud Manganang pernah sebagai penjual minyak tanah dan ibunya, Suryati Borilana, juga pernah menjadi pembantu rumah tangga di Sangihe.

Menjadi Kowad

Kini, Aprilia Manganang adalah seorang prajurit Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) dengan pangkat Sersan Dua (Serda) Kowad (K) dan bertugas di jajaran Kodam XIII/Merdeka yang bermarkas di Manado, Sulawesi Utara (Sulut).

April bergabung menjadi Kowad melalui seleksi Sekolah Calon Bintara (Secaba) Prajurit Karir (PK) Atlet, yang dilantik pada Desember 2016.

Bila mengenang disaat-saat awal menjadi prajurit TNI sekitar dua tahun lalu, Serda (K) Aprilia Manganang mengaku canggung ketika diwajibkan berdandan dalam sebuah acara resmi Kowad.

Hal itu menjadi pemandangan yang tak biasa dari Aprilia, karena selama ini ia memang kerap berpenampilan tomboi layaknya seorang laki-laki.

“Pas di foto itu aku kelihatan kaku banget. Kalau anggota Kowad yang cewek kan memang wajib pakai make-up saat acara resmi. Sudah lama sekali tak berdandan seperti itu. Dulu pernah pakai gaun saat peneguhan sidi (baptis), itu pun sudah lama sekali,” katanya.

Lebih lanjut ia menceritakan bagaimana suasana kebatinannya saat itu.

“Akan tetapi, namanya juga kerja. Aku disuruh pakai rok, sepatu high heels yang tingginya lima senti, dan jalan harus feminin. Aku pun sebenarnya enggak mau ngaku kalau itu aku,” kata Aprilia seraya tertawa.

Saking canggungnya harus berdandan layaknya perempuan, Aprilia mengaku sampai susah tidur pada H-1 sebelum acara pelantikan.

“Bayangkan saja, aku sampai cedera ankle karena pakai sepatu high heels. Kan tahu sendiri, basic aku tuh cowok banget, lalu tiba-tiba harus berpenampilan cantik,” tutur Aprilia.

Kendati demikian, Aprilia bersyukur bisa dilantik menjadi anggota Kowad. Pekerjaan tersebut merupakan jaminan masa depan jika dia berhenti berkarier di dunia voli.

Sebagai anggota Kowad, Aprilia juga memperkuat tim voli korpsnya dan berhasil menjadi juara pada turnamen Piala Kartini 2017.

“Saya ini kan enggak selamanya bermain voli. Nanti kalau sudah pensiun, setidaknya saya punya pekerjaan tetap. Orangtua juga sudah mewanti-wanti hal ini,” ucap Serda (K) Aprilia Manganang, yang pernah juga membawa Jakarta Elektrik PLN menjadi juara Proliga 2017. (Rtyn Prima)