Kemenperin: 90 Persen Produk E-Commerce Indonesia Barang Impor

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih (kanan) serta CEO PT Ruang Raya Indonesia (ruangguru.com) Adamas Belva Devara (kiri).

Jakarta-Metrosoerya.net – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan 90 persen dari produk yang dijual di seluruh marketplace perdagangan online atau e-commerce Indonesia adalah barang impor. Meski industri e-commerce tumbuh pesat, peran dari produk lokal ternyata masih sangat kecil.

“Produk dalam negeri hanya 10 persen,” kata Gati saat ditemui di acara 9.9 Super Shopping Day di Jakarta Pusat, Selasa, 4 September 2018.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian terus bekerja sama dengan sejumlah marketplace agar proporsi produk lokal, terutama produk industri kecil dan menengah, bisa meningkat Sebelumnya dari Data Sensus Ekonomi 2016, Badan Pusat Statistik menyatakan industri e-commerce Indonesia telah tumbuh 17 persen dalam dalam sepuluh tahun terakhir. Bahkan, pertumbuhan ini disebut-sebut sebagai yang tertinggi di dunia. Sementara nilai transaksi e-commerce 2018 ini diprediksi akan mencapai Rp 144 triliun.

Di sisi lain, persoalan barang impor ini tengah menjadi perhatian pemerintah karena membuat rupiah semakin melemah. Hari ini saja, kurs rupiah telah menyentuh level Rp 14.800 per dollar Amerika Serikat. Untuk itu, pemerintah akan melakukan seleksi ketat terhadap 900 komoditas impor yang masuk ke Indonesia.

Untuk itu, Gati menambahkan, Kemenperin telah bekerja sama dengan Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Blibli.com, dan Blanja.com demi memperkuat penetrasi produk lokal di industri e-commerce. Kenyataannya, kata Gati, para pelaku e-commerce ini sebenarnya memiliki rasa kebangsaan dan nasionalime yang tinggi.

Salah satu bentuk keberpihakan pada produk dalam negeri memang telah dilakukan Shopee dengan program Kampus Shopee yang membina hampir 30 ribu pelaku usaha kecil dan menengah dalam negeri. Langkah ini pun, kata Gati, akan segera diikuti oleh marketplace lainnya. “Kalau lihat antusiasme seperti ini, saya yakin tidak sampai 5 tahun angkanya bisa berbalik,” ujarnya.

Head of Government Relations Shopee Indonesia, Radityo Triatmojo mengatakan saat ini ada 2 juta lebih pedagang aktif di Shopee. Namun, Shopee belum melakukan validasi detail terhadap jutaan pedagang tersebut, apakah sebagai produsen sekaligus penjual atau hanya reseller yang menjual produk impor dan lokal. Sebab, variabel yang digunakan di Shopee baru sebatas pendapatan pedagang per tahun. “Ada beberapa yang kami tanya, tapi enggak bisa validasi satu per satu,” ujarnya.

Radityo mengatakan komitmen Shopee untuk memperkuat produk dalam negeri bukan hanya lewat Kampus Shopee, namun juga lewat kategori Kreasi Nusantara. Di platform khusus yang ada di aplikasi ini, Shopee mengkurasi produk lokal yang dijual. Syarat untuk masuk ke dalam kategori ini adalah produksi dalam negeri atau merek dalam negeri.

Marketing dari Fabelio.com, Nelsen, mengatakan perusahaan telah mulai membuka marketplace e-commerce untuk pelaku usaha kecil dan menengah lokal dalam lima bulan terakhir. Fabelio adalah sebuah marketplace khusus produk furnitur dan rumah tangga. “Jadi yang jual mebel di pinggir jalan misalnya, juga bisa masuk ke kami. Jumlahnya saat ini sudah lebih dari 100 pedagang,” kata Nelsen.(Herman/Red)