Menkes RI Nila Moeloek Pimpin Side Event tentang Pencegahan dan Pengendalian Tuberkulosis di Sela Kegiatan RC-71 WHO SEARO di India

(METROSOERYA.NET) – Di sela-sela sidang regional committee (RC) WHO South-East Asia Region (SEAR) ke-71 di New Delhi, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof .Dr.dr. Nila F Moeloek, SpM(K), memimpin side event yang bertema Preparation for the High-Level Meetings of the General Assembly on Tuberculosis and NCD Prevention and Control, Senin (3/9/2018).

Pertemuan dihadiri oleh Director Non Communicable Disease (NCD) and Environmental Health WHO SEARO, Dr. Thaksapon Thamarangsi; Director of Communicable Disease WHO SEARO, Dr. Swarup Sakar; perwakilan Stop TB Partnership; dan seluruh negara anggota WHO SEAR.

Mengawali pertemuan tersebut disampaikan bahwa High Level Meeting United Nations General Assembly tahun 2018 ini akan mengangkat dua isu kesehatan antara lain terkait NCD atau penyakit tidak menular yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 September 2018 dan Tuberkulosis (TBC) yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 September 2018. Pertemuan bertujuan untuk membentuk komitmen politik seluruh negara anggota UN guna menekan angka TBC dan NCD.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan delegasi Indonesia, yakni Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dra. Engko Sosialine, M, Apt menyampaikan undangan kepada seluruh negara anggota WHO SEAR untuk dapat hadir dalam pertemuan side event Eliminating TB in 2030: Accelerating Innovation and Collaboration to Ending TB in South East Asia yang akan di co-host oleh Pemerintah Indonesia, WHO SEARO, Stop TB Global dan Forum Forum Stop TB Partnership yang akan dilaksanakan di New York pada tanggal 27 September 2018 mendatang.

Side event ini bertujuan untuk menekankan role of partnership dan partisipasi multi stake holderdalam rangka mengeliminasi TBC. Tujuan lainnya adalah sebagai wahana memberikan showcasekesuksesan yang telah dilakukan dalam eliminasi TBC dengan berkolaborasi dan partnership platforms di wilayah SEAR serta memfokuskan terhadap berbagai tantangan yang berbeda-beda dan unik dalam mengeleminasi TBC di wilayah SEAR. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk mendiskusikan kesempatan kerja sama selatan-selatan, istilah historis yang digunakan oleh para pembuat kebijakan dan akademisi untuk menggambarkan pertukaran sumber daya, teknologi, dan pengetahuan antara negara-negara berkembang. (Rtyn Prima)