Cegah Masalah Psikis Pasca Bencana, Kemenkes Lakukan Trauma Healing

(Metrosoerya.net) – Dampak akibat gempa bumi memerlukan upaya adaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi bagi para korban. Korban yang tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan bisa menimbulkan bermacam masalah kesehatan seperti stress, kecemasan, depresi hingga ganguan jiwa berat.

Oleh karena itu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang merupakan sub klaster kesehatan jiwa melakukan penanganan psikis melalui Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) kepada para korban.

Strategi dari DKJPS adalah memberikan intervensi berjenjang yang di awali dengan low level intervention misalnya aktivitas rekreasional, screening populasi terdampak dengan istrumen SRQ (Penjelasan mengenai cut off akan diberikan oleh Psikiater), psikoedukasi dan group theraphy. Selain itu merujuk pasien ke rumah sakit untuk diberikan terapi medis bagi penyintas yang membutuhkan layanan medis lanjutan.

DKJPS dilakukan atas kerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, RSJ Atma Husada, RS Madani, Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, serta beberapa organisasi profesi dan relawan dengan dukungan tenaga psikiater, dokter umum, perawat jiwa, psikolog, dan dukungan bantuan obat-obatan psikofarmaka sebanyak 160.000 tablet dan 3.000 injeksi.

DKJPS individu maupun kelompok dilakukan di wilayah Sulawesi Selatan, yaitu di pos pengungsi Asrama Haji Makassar dari tanggal 5-10 Oktober 2018 oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Pelayanan DKJPS individu dilakukan kepada 110 orang dengan jumlah 78 perempuan dan 38 laki-laki dan telah dilakukan terapi non farmakologik.

Kemudian, pelayanan DKJPS kelompok pada tanggal 11 Oktober 2018 dilakukan kepada 30 orang dengan jumlah 19 perempuan dan 11 laki-laki. Pada tanggal 12 Oktober 2018 dilakukan pada 28 orang dengan jumlah 15 perempuan dan 13 laki-laki.

HIMPSI, memberikan layanan DKJPS dan PFA di 34 titik dikota Palu dan Kabupaten Sigi dengan jumlah penyintas dalam kelompok rata-rata 15-35 orang.

Selain itu, relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), memberikan pendampingan psikososial pada tanggal 3-11 Oktober 2018 dengan penerima manfaat sebanyak 139 anak dengan daerah layanan meliputi FAI Universitas Muhammadiyah Palu, Posyandu Tamanodindi, Puskesmas Talise, Kel. Layanan; Desa Pangawu, Kec. Tatanga, Kota Palu; Posko Muhammadiyah di FE Universitas Muhammadiyah Palu; Desa Pabean, Kec. Balasan, Kab. Donggala ; Desa Limboro, Kec. Banawa Tengah, Kab. Donggala; desa Sidera, Kec. Sigi Biromaru, Kab. Sigi.

Di posko kesehatan, laporan status kesehatan jiwa ditemukan beberapa indikasi kasus depresi ringan-sedang, gangguan depresi akut, trauma psikis dengan disorientasi. Kasus tersebut ditemukan di Kabupaten Donggala sebanyak 26 titik, Kabupaten Sigi 19 titik, dan Kota Palu 21 titik.

Selain itu, jumlah tenaga kesehatan DKPJS klinis terdapat 1 Psikiter di RS Madani, 1 Psikiater di RS Sis Al Jufri, 1 Psikiater di posko pengungsi yang bersifat mobile, Psikologis klinis HIMSI / IPK Sulteng, dan Staff Dinas Kesehatan Provinsi.

Hingga saat ini, tenaga kesehatan yang sudah aktif bekerja sekitar 15%-20%. Untuk itu, diharapkan nakes puskesmas, bidan, staf di dinkes mendapatkan DKJPS agar semuanya bisa kembali bekerja.

Di samping itu, staff RS Sis Al jufri sudah mendapatkan terapi kelompok dan terapi relaksasi dan terapi individu bagi yang membutuhkan terapi lanjutan.

Bagi psikiater, bantuan dalam memberikan obat harus disesuaikan dengan jenis yang disediakan di Puskesmas untuk memastikan keberlanjutan DKJPS. (Rtyn Prima)