PASCA NOTARIS WIDASTRI DI TETAPKAN TERSANGKA KASUS TANAH DI BR CANGKILING BALANGAN , KINI NOTARIS ITU BAKAL TERSERET KASUS TANAH RENON

Denpasar-Metrosoerya.net
Penetapan tersangka terhadap Notaris Ni Wayan Widastri , SH oleh Polresta Denpasar dengan No : B/40.a/IX/2018/reskrim, rupanya bakal membongkar kasus sengketa tanah lain nya yang kini telah masuk di sidang perdata PN Denpasar . Salah satu nya adalah kasus sengketa tanah yang kini sudah bergulir di Pengadilan Negeri Denpasar bahkan sudah memasuki 3 kali sidang mediasi yakni sengketa tanah yang berada di kawasan jalan Dewi Madri tepat nya di Desa Sumerta Klod, Br Sebudi kecamatan Denpasar Timur .

Notaris yang berpraktik di Jalan Puputan Renon , Denpasar itu di sebut sebut “turut tergugat” dalam sidang mediasi di PN Denpasar pasal nya Notaris Widastri di duga dan berani turut serta memecah tanah menjadi 3 sertifikat dari SHM atas nama Oka Budiana . Padahal tanah yang di kuasai Oka Budiana tersebut masih berperkara . lalu aneh nya tanah yang di kuasai Oka Budiana tersebut tidak masuk dalam daftar TL (team liquidasi) saat BDB mengalami pailit . Hal ini berbeda jauh dengan tanah di sebelah nya milik Wayan Mustam (alm) ayah I Nyoman Ordi di mana tanah tersebut masuk dalam daftar TL. Sehingga penafsiran nya lahan miliki I Gede Dastra berdasarkan SHM No 179 lepas dari bundle liquidasi.

Menurut salah satu keluarga penggugat yang tak lain I Nyoman Ordi mengatakan bahwa muncul nya SHM atas nama Oka Budiana sangatlah janggal, pasal nya I Gede Dastra selaku pemilik yang syah berdasarkan SHM No 179 tidak merasa menjual tanah itu ke pihak manapun apalagi ke Gusti Made Oka hanya saja menurut pengakuan Gede Dastra ke Nyoman Ordi bahwa Gede Dastra dan Wayan Mustam (alm) di tahun 1987 pernah membuat akta kuasa jual di hadapan notaris namun akta kuasa jual yang di bikin tersebut tanpa di hadiri istri mereka akibat nya akta kuasa jual itu di anggap sepihak . Lalu dari kuasa akta jual itu muncullah akta No 107, 109A dan No 109 .

“bila di katakan lunas dalam kwitansi mana bukti nya “ucap Ordi bahkan tanda tangan dalam kwitansi yang di pegang sebagai bukti Ordi sangat di ragukan. Sedangkan lahan seluas 28 are setelah proses LC di tahun 92 dan setelah tahun 1993 sertifikat LC keluar , muncul lah SHM atas nama Oka Budiana yang di nilai sangat janggal. Dan terkesan ada dugaan permainan notaris nakal. terlebih kini lahan tersebut di pecah pecah menjadi 3 sertifikat di mana Oka Budiana menggunakan notaris Widastri untuk memecah lahan seluas 28 are. “fakta inilah yang menyeret Widastri dalam pusaran sengketa tanah di Dewi Madri renon ” tandas Ordi.

Bahkan Widastri di anggap dan di duga melanggar sumpah jabatan karena berani memecah tanah seluas 28 are yang masih berperkara. selain itu tanah yang berperkara tersebut kini di bangun “Bale Ajengan Resto” yang nyata nyata milik Notaris Widastri. (Anwar) .