Vonis untuk Kepala Disperindag Jember Berat,Tak Nikmati Uang Korupsi

Jember – METROSOERYA.NET – Vonis empat tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider dua bulan penjara untuk mantan kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember Anas Ma’ruf dalam perkara korupsi Pasar Manggisan dinilai terlalu berat.

Anas dijatuhi hukuman oleh majelis hakim yang diketuai Hizbullah Idris dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Surabaya, Selasa (15/9/2020) kemarin. “Jaksa menuntut 4,5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider tiga bulan penjara. Pak Anas notabene tak menikmati apapun, tak ada aliran dana apapun ke Pak Anas,” kata Muhammad Nuril, pengacara Anas.

Anas masih pikir-pikir dalam waktu tujuh hari. “Kami masih akan berkoordinasi dengan Pak Anas dan keluarga, apakah akan banding atau menerima. Tapi selaku penasihat hukum Pak Anas, hukuman ini cukup berat. Kalau pun ada kesalahan, itu hanya administrasi dan tak pernah menikmati uang hasil korupsi,” kata Nuril.

Anas dianggap memperkaya orang lain karena kelebihan membayar, sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 1,3 miliar. Sebelumnya, dalam pledoi Anas, Nuril menyatakan, pencairan anggaran sudah memiliki berita acara yang ditandatangani PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) dan bendahara pengeluaran. Jadi tidak ada alasan bagi Anas selaku pengguna anggaran untuk tidak mencairkan dana konstruksi Pasar Manggisan.

Nuril membenarkan, bahwa Anas merangkap jabatan pengguna anggaran dan pejabat pembuat komitmen. “Rangkap jabatan itu atas petunjuk Bupati Jember, dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan, karena Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 memperbolehkan rangkap jabatan itu,” katanya.

pembangunan Pasar Manggisan memang tidak selesai pada akhir Desember 2018. “Dalam hal ini, Pak Anas selaku pengguna anggaran (dianggap) kelebihan bayar. Faktanya di lapangan sudah 64 persen kegiatan itu dilaksanakan, sedangkan dibayarkan 53 persen,” kata Nuril.

“Ketika tanggal 31 Desember 2018, perhitungan dari konsultan pengawas sekitar 54 sekian persen. Terus kemudian dibayar oleh pengguna anggaran 53 persen. Ada selisih, karena diberikan kesempatan ada adendum, mengerjakan (dalam waktu) 50 hari kerja kalender,” kata Nuril.

Rekanan pun kemudian mengerjakan sisa pembangunan Pasar Manggisan hingga 64 persen. “Setelah adendum ini yang belum terbayar, karena kemudian disidik kejaksaan dan (Pasar Manggisan) dikasih garis pembatas (garis polisi, red),” kata Nuril.
Red