‘Benteng Lia’ Memperkokoh Militansi Relawan Bangjo Lia Istifhama

Surabaya Metro Soerya. Net – Menjelang pilwali 2020, suhu perpolitikan surabaya sedikit mulai menghangat. Aksi saling serang, mulai dari sindiran hingga celaan lewat WAG maupun media medsos misal melalui Facebook, IG, tweeter dan lainnya mulai tampak kepermukaan. Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh para pendukungnya melalui medsos tapi juga melalui darat. Entah apakah itu faktor kesengajaan atau tidak dan apakah itu dilakukan oleh pendukung kandidat lain kita juga belum tahu, yang jelas memang peristiwa itu nyata adanya. Misal beberapa waktu lalu indah yanuarsih salah satu pendukung berat Lia Istifhama bacawawali PDI Perjuangan mendapat chatting di WhatsApp. Bahwa yang bersangkutan mengatakan melalui japri, minta tolong ditransfer ke rekening atas nama Ginanjar Yudi Sanjaya di sebuah bank swasta lengkap dengan nomor rekeningnya, dengan nominal Rp 2.400.000,-. Berita rekening minta dituliskan : “Pembayaran Rapat Kerja dari Lia Istifhama” dan perkara tersebut oleh yang bersangkutan dilaporkan ke polsek wonocolo surabaya. begitupun serangan didarat, entah itu dilakukan oleh siapa dan pendukung siapa, yang jelas dari 600 banner banner bergambar Ning Ceria Iia Istifhama yang terpasang disudut sudut kota surabaya seolah raib ditelan bumi. yang jelas seperti pribahasa mengatakan “ semakin tinggi pohon menjulang, maka semakin kencang angin menghempas”.

Namun begitu dengan rentetan kejadian tersebut justru semakin menguatkan tekad relawan pendukung lia istifhama untuk tetap bersatu dan berkobar mem-BENTENG-i jagoannya sampai ketitik yang diharapkan. Karena seiring bertambahnya waktu perhelatan pilwali surabaya semakin mengerucut, dimana menunjukkan kandidat yang masih konsisten tetap bertahan dan yang perlahan mulai meredup. Diantara yang masih bertahan adalah sosok yang dikenal mbonek namun memiliki jaringan relawan yang militan, yaitu Lia Istifhama atau disebut Ning Lia. Putri mantan ketua GP Anshor Surabaya era 1980-an, KH Masykur Hasyim. Bahkan demi menunjukkan eksistensi jaringan relawan, Lia bersama sama relawan militannya membentuk Barisan pENguaTan nENG Lia (BENTENG LIA) pada Kamis (23/1) kemarin. Bertempat di kediamannya, aktivis Millenial yang kental dengan darah Nahdliyin ini menjelaskan apa tujuan dari benteng Lia tersebut.
Saat dikonfirmasi oleh metro soerya terkait dengan sebutan timsesnya benteng lia, Lia Istifhama mengatakan, “Untuk konsep timses, saya cenderung menyukai istilah Barisan pENguaTan nENG Lia (BENTENG LIA). Secara teknis, benteng Lia ini sama halnya dengan timses yang umumnya dibentuk oleh para kandidat. Sengaja saya baru membentuk sekarang karena saya ingin berproses yang cukup bersama relawan. Berta’aruf lebih dalam dengan mereka selama ini. Itu kenapa tidak ujug-ujug dari dulu menyusun timses. Saya kira sekarang sudah tepat, yaitu waktu dimana teman-teman telah deklarasi dukungan di hotel Quds Desember lalu yang dihadiri 38 organ relawan. Bagi saya, proses politik yang paling penting yah ini. Yaitu bersama sahabat relawan yang militan. Saya kira kurang menarik jika politik mengabaikan kekuatan jaringan relawan yang memiliki ketulusan. Karena memang salah satu poin utama keberhasilan suatu proses yah ada pada jaringan relawan yang militan. Dan karena ini sudah Januari, otomatis sudah mendesak untuk membentuk struktur tim. Itu kenapa saya telah membentuknya sekarang. Harapan saya, benteng Lia ini merupakan pengejawantahan jaringan relawan secara keseluruhan”, jelasnya.

Lia menambahan “Saya ingin kombinasi yang pas dan sesuai kearifan lokal Surabaya. Yaitu Surabaya yang memang kental dengan nuansa hijau dan merah, karena kemajemukan warna memang kental di kota ini. Jadi kombinasi adalah sreg, yaitu nasionaliS dan REliGius. Nasionalis adalah teman-teman relawan yang notabene jalur abangan kader PDIP karena setiap pemilu legeslatif pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan pendukung setia pak Jokowi, seperti halnya pak darmanto, mas ferry, mbak evana, pak herman, mas abdul khodir, mas anang, mas setyo, pak hardi, mas didik, mbak Megawati (difabel), dan sebagainya. Untuk Religius, yaitu pak Abdurrahman, Kyai Ansyori, dan Cak Yusuf Hidayat. Beliau ini kader asli nahdliyin, memiliki jaringan bagus di partai juga, antara lain PPP dan Nasdem. Selain Millenial, cak Yusuf ini berdarah Surabaya campur Madura, yaitu Gus Yusuf Hidayat. Harapan saya, selain di samping mereka ada begitu banyak relawan hebat, kita bisa merangkul semua kalangan, lintas partai, lintas agama. Yang jelas bagaimana agar benteng Lia ini memiliki peran aktif bahkan bisa memiliki salah satu bagian penentu pasangan figur yang akan didapuk memimpin Surabaya selepas Pilwali 2020 ini”, tambahnya.

Di lain kesempatan darmanto (Gus Dar), ketua relawan Surabaya ceria, menjelaskan bahwa Ning Lia yang ia jagokan, merupakan sosok yang bisa diterima semua kalangan.

“Ning Lia ini bisa dikatakan sudah kompleks, yaitu Bangjo. Dia merupakan sosok aktivis NU, karena memang dari keluarga tokoh NU, yang berjiwa nasionalis religius dan yang suka dengan konsep konsep marhaenisme yang dicetuskan oleh Bung Karno karena kedekatannya dengan kalangan buruh dan golongan abangan. Jadi ini alasan kenapa kami mendukung dan menyebut ia diterima disemua kalangan”, jelasnya. (Red)